Blog didedikasikan kepada pengikut dan pembaca dalam hal pengalaman penulis dalam menyajikan tempat wisata (traveling), obyek pendidikan, jajanan, sosial budaya, ekonomi dan kehidupan jalanan.

16 April 2015

Jadilah lelaki seperti ayahku, [kuat dan terus bersabar].


Di awal postingan ini, aku dedikasikan kepada ayahku [biasa aku memanggilnya Bapak].
Setelah bermingu-minggu memilih template dan pada akhirnya aku cocok dengna template yang kugunakan saat ini, elegan dan menarik. Semoga kalian juga menyukainya.

Memang, bingung ketika kita akan memilih template.
Cocok untuk ktita belum tentu cocok untuk orang lain, pas dihati orang lain belum tentu juga pas di hati kita.
Maka dari itu, saya memilih template ini karena memang saya meminta pendapat dari beberapa teman, dan akhirnya mereka memilih template yang dibuat Dian Anarchyta ini.
-------------- Kembali ke topic.

Sampai saat ini sudahkah kita berbangga hati terhdap keluarga dirumah?
Yang merawat dan membesarkan hingga dewasa dan nikah.
Kurasa perasaan yang kalian hadapi juga sama, pastinya akan berpikir bagaimana cara membahagiakan mereka.

Saat ini aku kuliah di Perguruan Tinggi Negeri, tepatnya di Jember.
Kemudian aku memutuskan untuk tinggal dirumah kos yang sebelumnya perna di pesantren selama 2 bulan.
Sebutan Desaku Kloposawit, 30 kilometer ke arah barat dari Kota Lumajang.


Ngatriyanto Lumajang

Ayah adalah seorang petani yang ulet, rajin dan semangatnya yang membara.
Tiap kali aku pulang ke Lumajang tempat dibesarkannya diriku, beliau selalu mengajak untuk melihat sawahnya.
Selain sebagai petani, dihari Senin sampai Jumat beliau juga mempunyai pekerjaan lain, yaitu sebagai juru ketik di Pengadilan Negeri Lumajang, biasanya disebut Panitera Pengganti.

Tetapi meskipun demikian, aku tetap menyebutnya petani yang handal, dan ulet.
Tiap 3 bulan sekali InsyaAllah beliau memanen padinya.
Berbagai macam padi telah dicoba, mulai dari pada jenis 64, serang, walanei dan masih banyak jenis pada lainnya.

Alhamdulillah meskipun sawahnya tidak sampai se-hektar, InsyaAllah cukup untuk membiayai kuliahku sampai saat ini.
Memang butuh waktu dan pengorbanan yang harus dilakukan untuk sukses. Butuh kesabaran dan keterampilan selain itu juga dibekali kebutuhan rohani yaitu nyuwun welasipun kang moho Agung Gusti Pengeran.

Pernah beliau cerita disela-sela santainya, beliau bisa seperti saat ini adalah jerih payah dan pengorbanan yang beliau lakukan sedari muda.
Tidak menyia-nyiakan waktu dan taat terhadap aturan.
Beliau dalah mantan tukang becak saat dibangku STM, beliau juga pernah sebagai pedagan Bongko (jajanan didaerah Lumajang) saat beliau masih muda.

Panasnya matahari telah beliau lalui, lebatnya hujan telah beliau lewati.
Jadilah lelaki seperti ayah nak... Siap untuk sulit dan menimpa pekerjaan yang keras.
Meski ayah tak pernah menyampaikan pesan itu, aku merasakan bahwa beliau menyampaikannya lewat tindakannya.

Masa mudaku masih jauh, pastinya ayah sudah melewatiya semua.
Manis pahitnya, hitam putihnya hidup sudah pernah dialami.
Sekarang gilirankulah yang merasakan hal itu, kearah mana hidup ini akan kubawa, tergantu kaki dan tanganku yang bergerak.
Ayah akan tetap mendukung dan berdoa disamping memberikan dorongan doa barakahNya.

Barakallahufik....
[Tulisan seorang anak yang rindu kampung desanya.]
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya - BerBagi dengan HePi Dibuat dengan senang hati oleh: Dwi Agus