Blog didedikasikan kepada pengikut dan pembaca dalam hal pengalaman penulis dalam menyajikan tempat wisata (traveling), obyek pendidikan, jajanan, sosial budaya, ekonomi dan kehidupan jalanan.

Monday, June 29, 2015

Banyak dosen baik, tetapi tidak semua mengerti mahasiswanya.

Maafkan saya, cerita ini tidak akan punya akhir disini. Semoga semuanya baik.

Fakultas Hukum Universitas Jember
Suasana saat kuliah malam di kampus. Mahasiswa tampak lelah.
 
Menjadi mahasiswa tidak senyaman yang saya bayangkan waktu SMA dulu saat melihat FTV, kita bisa membawa kendaraan mobil pulang pergi kampus, dan berakhir pada cerita malam. 


Dan semuanya itu hanya fiktif belaka, mungkin karena terlalu banyak menghabiskan waktu di depan SCTV. Dan inilah mahasiswa yang sebenarnya, tanpa ada maksud merugikan apapundan siapapun, karena ini adalah cerita yang sesungguhnya.

Kadang saya merasa sedih, ketika seorang sahabat mendapat nilai kurang memuaskan dan merasa dirinya jauh lebih kurang baik dari teman-temannya. Kadang juga hal itu aku rasakan sendiri. Bingung juga jadi mahasiswa. Nilai yang kita peroleh pun tidak dapat kita ketahui terang-terangan, dengan alasan jika kita tahu hasilnya maka akan jauh lebih jelek dari yang sesungguhnya, padahal mahasiswa kan juga ingin evaluasi.


Yang salah agar tidak terus jalan di tempat, yang kurang baik bisa diperbaiki dan menjadi nilai yang baik. Tidak seperti sekarang, mahasiswa hanya bisa duduk menerima.
Banyak celotehan, “Padahal saya sudah belajar, tetapi mengapa hasilnya tetap saja jelek ya broo!”. Entah jika kita mendapat pertanyaan seperti itu, lantas bagaimana dan darimana menjawabnya. 


Dari kejauhan sana seorang melontar, “Kamu sudah baik dan dekat apa belum sama dosenmu?”… Apa? Iya kamu apa sudah dekat dengan dosenmu?
Saya pun tidak memahami apa yang dia lontarkan, tampaknya dia sangat serius menanggapinya. Dan pembicaraan cukup panjang pun berakhir, apa yang dia katakana memang sungguh tidak main-main. Karena memang dia jauh lebih tua dari kami, dan saya paham dia sudah lama disini jauh beberapa tahun dari kami.


Semuanya akan baik jika kamu bisa mengambil hati bapak ibumu. Kamu minta apa akan diberikan. Coba kamu tiap hari membantu ibumu dirumah untuk mencuci piring setelah makan, mau minta coklat ataupun eskrim, beliau akan rela membeli meski belum tanggal muda. Logis kan?


Dari kalimat itu pun saya mencoba meresapi dan memahaminya, cukup dalam juga bahasa sastranya. Memang ilmu yang paling berharga adalah tiada lain dari pengalaman. Mungkin itulah yang ia dapat. Tapi apa maksudnya?


Memang tanpak samar dan saya yakin mahasiswa tidak akan menyadari bahwa ilmu itu yang harus diterapakan dalam kehidupan kampus. Disini kita bukan siswa SMP atapun SMA lagi, jauh dari kata manja. Semuanya akan dilakukan dengan kaki sendiri, dan hal itu jika mereka menyadari bahwa dirinya mahasiswa yang sesungguhnya.


Semua dosen baik, mana ada orang tua yang tidak saying dengan anaknya? Mari kita renungkan bersama. Hal itu saya dapat ketika berada dirumah, betapa dimanjanya diriku. Makan pagi tinggal santap, sudah disediakan oleh ibu. Dengan balas jasa kita mampu membahagiakan dan menuruti apa yang beliau perintahkan.


Nah. Sama halnya kehidupan dikampus. Perintah apa saja yang bapak ibumu berikan, turuti saja, Jangan pernah mengabaikan. Ada tugas? Kerjakan tepat waktu, kumpula tepat waktu, dan santailah tepat waktu. Apakah hal itu cukup?


Belum bro. Itu masih 25%. Sisanya usahamu sendiri. Mengumpulkan tugas sudah, apa yang bapak ibumu perintahkan sudah dilaksanakan. Sekarang tibalah saatnya dirimu untuk menari-nari dihadapat beliau. Maaf jangan salah arti, menari disini adalah hal yang baik tanpa ada sogokan apapun.
Mendekatlah padanya, tanyakan apa saja yang tidak kamu ketahui. 


Ya benar, apa saja. Beliau akan menjawabnya dengan senang hati, ibu bapak dosen senang sekali dengan mahasiswa yang aktif bertanya. Apalagi bertanya di depan kelas, bukan hanya seorang yang mengerti, bahkwa sekelas akan mengerti. Manfaat-kan pertanyaanmu?


Hal itu apa cukup? Belum bro. Aktiflah membantu, apa saja yang bisa dikerjakan. Dosenmu segera menuju kelas, maka bantu membawa buku dari mejanya adalah hal yang sangat mudah di ingat oleh ibu dan bapak dosen. Lakukan hal itu tiap kali ada jam kuliahnya, semoga semuanya senang. 

Lebih-lebih kamu bisa membantu membersihkan kendaraannya atau bahasa lainnya nge-lap motor atau mobilnya.
Langkah terakhir adalah kunjungi rumahnya! Ini cara yang paling ampuh, karena cara ini adalah yang saya dapatkan dari teman-teman senior. 


Entah bagaimana caramu pikirkan dan lakukan sendiri, saya tidak akan menulis disini. Pasti kamu punya teknik sendiri. Jangan terus-terusan menjadi mahasiswa pemalu! Ubah dirimu, tulisan ini saya sudahi disini. 

Saya pun mencoba hal yang demikian. Semoga kita bisa bertemu pada rumah bapak/ibu yang sama, kita minum kopi disana.
Barakallahufiikum…
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya Blog - Belajar Mengelola Hidup dengan Benar Didukung oleh Jemberwebsite.com