Blog didedikasikan kepada pengikut dan pembaca dalam hal pengalaman penulis dalam menyajikan tempat wisata (traveling), obyek pendidikan, jajanan, sosial budaya, ekonomi dan kehidupan jalanan.

30 June 2015

Rasio ayah berbanding terbalik dengan anaknya.

Saya ingin berbagi cerita, jangan biarkan semuanya sia-sia dalam hidup tanpa ada tulisan yang berarti.
- - - - - - - - - - - - - - - - -
Dikehidupan, banyak hal yang didapatkan dari seorang ayah. Mulai kecil sampai kita tumbuh dewasa saat ini adalah suatu proses yang tak mudah dan butuh waktu yang lama. Etos kerja kersanya adalah sebuah pengorbanan yang luar biasa bagi saya, tidak lain dalam menafkahi keluarga sanak dan sang cucu tercinta.


Pasir Putih Situbondo

Dari subuh sampai nyaris magrib hanya demi mencari dan mendapatkan butir nasi untuk keluarganya, coba pikirkan betapa hebatnya dan selalu istiqomah beliau. Tidak pernah mengeluh, menyesal, sedih dan bahkan malah tambah bertambag semangat. Saya meyakini itu.

Sosok lelaki pekerja keras adalah dambaan semua kaum hawa, tapi tidak semua orang pekerja keras dapat menikmati hasilnya. Salah satu hal yang membuat ia tetap tersenyum walupun hasilnya tidak sebanding denga jerih payahnya adalah rasa bersyukur beliau yang tetap terjaga dan tertanam dalam nuraninya.

Patutlah dicontoh. Pengorbanan tiada tara, seperti halnya yang teman-teman lihat diatas. Saya sedang berada di pantai pasir putih Situbondo Jawa Timur bersama Bang ORIET. 

Kami duduk di atas kapal Pak Wafi, seorang pekerja pemandu wisata disana. Kami memang tahu, kapal yang kami tumpangi adalah tidak gratis alias berbayar. Tapi kami tahu semangat beliau luar biasa.

Beliau adalah orang yang pandai madura, sehingga kami agak sedikit bingung dengan logatnya. Tetapi tenang, semua orang paham dengan bahasa Indonesia pemersatu umat.

Disana beliau mencari wisatawan yang ingin menikmati pemandangan pantai khususnya terumbu karang di wisata Pasir Putih. Pertama kali memang Si ORIET yang bertemu dengan beliau, beberapa kalimat di ucapkan olehnya dengan Bapak Wafi, akhirnya beliau sepakat untuk mengantarkan menikmati hawa pantai dan terumbu karang dengan potongan 25 ribu dari harga awalnya. Normalnya 75 ribu. 

Perjalanan pun kami lalui dengan banyak perbincangan lelucon, memang Si ORIET adalah tipe lelaki humoris berbeda dengan saya yang selalu serius. 
Tapi saya tidak mau kalah dengannya, saya harus akrab dan sumeh dengan orang lain.

Saya pun melontarkan beberapa kalimat kepada Pak Wafi, mulai darimana asalnya, tinggal dimana, berapa anaknya dan lain-lain. Tampaknya memang sudah terlalu jauh pertanyaan saya, tetapi saya yakin beliau sangat senang dengan pemuda seperti kami.

Kata beliau, selain sebagai nelayan pemandu wisata, dirumah juga mempunyai ingon-ingon (memelihara) 2 ekor sapi. Hebat bukan?

Luar biasa sekali, bagaimana cara membagi waktunya? Kapan mencari rumputnya? Dan lain-lain....

Kami mendapat pelajaran yang berharga dari beliau, bahwasanya hidup itu tidak semuda seperti di film korea. Hidup adalah butuh perjuangan yang keras, dengan didasari rasa ikhlas dan istiqomah terhadap-Nya.

Sungguh mulai seorang bapak kepada keluarga. Kami yakin, 5-10 tahun lagi dua pemuda yang duduk di kapal itu sudah sebagai ayah yang dapat bercerita betapa kerasnya hidup kepada anaknya dan istrinya. Semoga kami dapat bertemu kembali di kapal yang sama pak.

- - - - - - - - 
Semoga kalian ikut senang.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya - BerBagi dengan HePi Dibuat dengan senang hati oleh: Dwi Agus