Blog didedikasikan kepada pengikut dan pembaca dalam hal pengalaman penulis dalam menyajikan tempat wisata (traveling), obyek pendidikan, jajanan, sosial budaya, ekonomi dan kehidupan jalanan.

26 August 2015

Mau ke Gunung Lemongan Lumajang? Inilah hal-hal yang harus diperhatikan.

Halo sobat, jumpa lagi di blog yang sama dan postingan yang berbeda.
Kali ini saya akan membahas mengenai wisata pendakian yang pernah saya kunjungi, yaitu Gunun Lemongan; Berada di Kecamatan Klakah - Lumajang Jatim, sekira 20 km dari jantung kota Lumajang.


Perjalanan kali ini terasa bahagia karena memang saya tidak berjalan sendiri, tetapi ada dua sahabat yang selalu menemani saya. Oriet dan Amir. Sosok seorang sahabat akan sangat dibutuhkan ketika libur kuliah telah tiba seperti yang saya rasakan saat ini.

Saat itu adalah hari Kamis, 20 Agustus 2015. Tiga hari setelah momen kemerdekaan kami rasa adalah waktu yang tepat untuk mendaki ke Gunung Lemongan. Memang telat bila kami ingin mengibarkan sang Merah Putih disana tepat pada 70 tahun Indonesia merdeka, tetapi hal itu bukan menjadi masalah bagi kami.

Sehari sebelum berangkat kami persiapkan barang-barang dan perlengkapan yang harus dibawa, ingat! Hal ini harus tetap dilakukan agar kalian tetap aman dan khawatir dalam perjalanan.
Berikut adalah daftar perlengkapan yang kami bawa:
- Perlengkapan Pribadi

1. Pakaian secukupnya
2. Obat-obat lengkap, mulai obat sakit kepala, sakit gigi, dan obat gatal-gatal dan lain-lainnya.
3. Perlengkapan mandi
4. dan yang terakhir adalah perlengkapan ibadah, tentunya Sarung dan Pakaian khusus Sholat.

- Perlengkapan bersama
1. (kami tidak membawa tenda), karena pada saat itu dimungkinkan cuaca cerah. Tetapi kalian yang akan kesana jangan berharap dengan cuaca, karena tidak dapat diduga-duga sedang dalam keadaan cerah atau mendung.
2. Matras (alas tidur), ketiga diantara dari kami tidak ada yang punya dengan matras, kami pinjam di Pramuka Universitas Jember.    
3. Sleeping bag, alhamdulillah saya punya. Cukup untuk 2 orang. Bang Oriet juga nggak mau ketinggalan, dia nyewa di persewaan. Memang, hal ini harus kalian perhatikan untuk menghindari udara dan hawa dingin, karena kami sudah pernah kesana dan saat itu adalah kedua kalinya untuk mendaki.

Okelah, kami berangkat dari Jember pukul 16.00 WIB sesudah sholat ashar. Kami berangkat dari kos Bang Ami di Kreongan Jember. Kami dari kosnya jalan kaki menuju jalan PB Sudirman (SMP 4 Jember).
Darisana kami naik angkot menuju Terminal Tawang Alun.


Perjalanan menuju Gunung Lemongan Lumajang


Kami menikmati perjalan dengan para penumpang lainnya, sudah pasti jika dengan Bang Amir dan Oriet tidaklah ada sedihnya, pasti akan tersenyum siapa saja yang disapanya.


Sok kenal sok akrab mereka, memang itulah cirinya. Basa-basi di dalam angkot sampai-sampai mendapat kenalan penjual tape, lihat di foto atas dengan asikny akan mereka ngobrol. 


Saya pun tidak mau kalah dengan mereka, sok akrab lah dengan Pak Sopir angkot.
Perjalanan menuju Gunung Lemongan Lumajang


Oke, kita sudah puas didalam angkot, Bertiga hanya ditarik 15 ribu rupiah, memang segitu untuk ukuran mahasiswa.


Kami sampai di terminal Tawangalun....


Perjalanan menuju Gunung Lemongan Lumajang


Lanjut.... Kami dari Tawangalun naik bus menuju Pasa Klakah. Lumayan, nggak mahal-mahal amat, bertiga ditarik 42 ribu (@14 ribu per-orang). Perjalanan yang kami tempuh sekira 2 jam, cukuplah untuk istirahat. Tetapi tidak dengan mereka berdua, sembari saya di dalam bus dengan menyadarkan kepala di bangku, mereka malah asik ngobrol dengan candanya.


Perjalanan menuju Gunung Lemongan dengan naik Bus Yuangga


Kami tiba di Klakah jam 18.00 WIB, lanjut kami berjalan dari Jalan Raya menuju jalan ke Ranu Klakah, sekira 10 menit dari kami berjalan kami sempatkan untuk sholat magrib dan isya terlebih dulu di Masjid.


Sejenak istirahat di Masjid untuk sholat magrib dan isya di Klakah


Setelah kami rasa cukup untuk istirahat, 19.10 WIB kami melanjutkan perjalanan menuju Pos 1 rumah mbah Tjitro. Perjalanan yang kami tempuh adalah dengan berjalan kaki, kami berniat setiap kali ada truk atau pick-up lewat akan kami berhentikan, tetapi pada malam itu kendaraan sangat sepi dan sebelumnya jalan alternatif itu ditutup karena bertepatan dengan bazar akbar sehinga kendaraan roda 4 tidak bisa masuk. Ada 2 kendaraan yang lewat, tetapi tidak dapat kami naiki karena banyak alasan dari sopirnya. Harus Legowo dong :)


Okelah, kami terus melanjutkan perjalanan menuju rumah mbah Tjitro.
Dalam perjalanan kali ini sangatlah mudah, karena ketiga dari kami sudah pernah melewati jalan ini dan sudah pasti kami yakin tidak kesasar. Hehehe...



Singkat cerita, tentunya malam yang kami lewati. Senter adalah hal utama yang kami jinjing. Perumahan warga kami lewati, kebun, kuburan dan sepi.


Tiba dirumah mah Tjitro pukul 21.54 WIB. Sayang sekali beliau tampaknya sudah istirahat, biasanya pada pendaki sebelum naik puncak minta ijin dulu ke mbah Tjitro. Kami mencoba mengetuk pintu beberapa kali tidak ada jawaban.


Kami pun melanjutkan perjalan, isitirahat dirumah mbah Tjitro hanya 15 menit hanya untuk berkemas dan menyiapkan perlengkapan seperti Jaket, Tutup kepada, masker dan menaruh minuman diluar tas (agar enak ngambilnya).


Perjalanan saat itu adalah hari Kamis, dan kami yakin para pendaki yang menuju puncak Lemongan sedikit tidak seperti hari libur yang cukup banyak.

Melanjutkan perjalanan...
Banyak pendaki mengatakan, bahwa medan di Gunung Lemongan ini lebih sulit dari gunung tertinggi di pulua Jawa yaitu Gunung Semeru. Memang benar, meskipun kami bertiga belum pernah ke Gunug Semeru, medanya sangatlah sulit.

Batu terjal dan berpasir. Bekas kaldera hitam juga banyak ditemui, entah ledakannya tahun berapa. Yang pasti puluhan atau ratusan tahun yang lalu.



Kami tiba di pos kedua jam 11.05 WIB.;
Watu Gede adalah pos untuk beristirahat bagi kami sampai jam 01.00 dini hari dan sekalian masak mie dan menikmati singkong rebus.
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya - BerBagi dengan HePi Dibuat dengan senang hati oleh: Dwi Agus