Blog didedikasikan kepada pengikut dan pembaca dalam hal pengalaman penulis dalam menyajikan tempat wisata (traveling), obyek pendidikan, jajanan, sosial budaya, ekonomi dan kehidupan jalanan.

13 March 2016

Menjauh untuk menjaga. Kau tahu? Sejujurnya aku benci konsep itu

Ranu Kumbolo Lumajang Jatim Semeru
Ranu Kumbolo - Di ambil oleh Sahabat Amir
[J]auh
______
Kamu pasti takut sendiri. Aku juga. Kemarin, waktu kau bilang kau akan pergi jauh, aku makin takut. Ada semacam perih dalam hati yang membuat mataku dipaksa berair. Pipiku becek. Sayang, air mataku, sederas dan sebanyak apapun ia mengalir, tampaknya tak punya daya menahanmu untuk tetap disini. Maka detik itu aku pura-pura tersenyum.Detik selanjutnya aku menyadari bahwa tersenyum sama sekali tak melegakan.

Bila kau mengerti. Dalam senyum yang kubuat-buat itu sebenarnya hatiku berdoa. "Tuhan, tak bisakah Kau lewatkan aku dari cerita tentang keterpisaha ini?"  Belum sempat kudengar jawaban dari-Nya, lantas kususul dengan doa-doa senada: "Tak bisakah waktu Kau putar lebih cepat sampai ia kembali?, tak bisakah untuk kali ini saja anugerahi hambamu ini kemampuan untuk memperbudak waktu?"

Entahlah, semoga saja dari sekian doa yag kuucap, Tuhan mengabulkan paling tidak satu saja. Demi menghibur satu dari sekian miliar hamba yang lebih dari sekedar layak untuk mendapat belas kasihan-Nya. Menjauh untuk menjaga. Kau tahu? Sejujurnya aku benci kata itu. Terlalu menyedihkan. Seperti perumpamaan klasik,  tentang matahari yang mencintai bumi dengan jaraknya. Terdengar tegar dan dewasa memang, tapi tetap saja menyedihkan. Aku mulai mengira, barangkali analogi itu cuma pembenaran teoritis atas tragedi ketidakmampuan mencintai~dengan alasan apapun. Atas boleh jadi semacam legitimasi bagi sebuah kerapuhan jiwa.

Apa yang bisa diharapkan, dari cinta yang bahkan oleh himpitan jarak saja ia tak berdaya?
Apa yang dibanggakan, dari cinta yang dengan segala macam pembenarannya menyerah pada keterpisahan, pasarah pada ketakberdayaa, sementara seluruh penjuru dunia memuja kedigdayaannya dengan kalimat "Amour Vincit Omnia?". Kalau saja matahari, memang mencintai bumi. Dengan abadinya keberjarakan yang ditakdirkan pada mereka, mestinya telah redam bara yang ia punya. Terendam oleh air matanya sendiri. Sepeti Qais yang cintanya tak pernah sampai pada Laila, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menangis. Lalu majnun-lah ia sebelum akhirnya mati dalam sebuah keterpurukan.

Apakah selalu begitu, benturan antara rasa dengan realitas yang beda rupa selalu mencipta luka? Menjauhlah untuk menjaga. Sampai pada baris tulisanku yang kesekian ini, aku masih belum menerima konsep itu. Sepeti konsep 'rela menunggu untuk kebahagiaan'. Lagi-lagi, entahlah. Barangkali aku terlalu merindukanmu, hingga aku tak rela menunggu. Terlebih lagi, membuatmu menungu.

~Azhar Nurun Ala [dalam bukunya Cinta Adalah Perlawanan, hal. 39-41]
Ditulis kembali oleh Dwi Satya.
_________________________
Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya - BerBagi dengan HePi Dibuat dengan senang hati oleh: Dwi Agus