Blog didedikasikan kepada pengikut dan pembaca dalam hal pengalaman penulis dalam menyajikan tempat wisata (traveling), obyek pendidikan, jajanan, sosial budaya, ekonomi dan kehidupan jalanan.

14 March 2016

Subuh dan daun yang basah

Dwi Agusatya WIcaksana Cerita Cinta Kita
Subuh dan daun yang basah
[Pada suatu subuh]
Ketika daun masih basah oleh pelukan embun, kuhirup udara di bawah remang lampu jalan. Itulah detik yang menenangkan; ketika aku melepas rindu yang kuikat semalaman bersama mata yang terpejam. Lalu hanyut aku dalam sujud-sujud kemenangan, bahwa berbagai rayuan telah mampu kukalahkan. Tanpa parang, tanpa pedang.

Belum habis subuh berjalan, senyummu terbit melangkahi matahari. Bibirmu mekar mendahului bunga-bunga di halaman kita. Hari masih gelap. Tapi mata kita menyala. Batin kita, diam-diam menerka; inikah yang disebut bahagia?

Kutulis surat ini sepulang sholat Subuh di Mushalla dekat rumah kita. Aku membangunkanmu yang barangkali masih asyik bermimpi.

Satu menit lagi, katamu.Selalu begitu. Dua menit kemudia aku akan datang lagi, menarik tanganmu.Emang udah satu menit? Pertanyaan favoritmu.Aku tak menjawab. Kau tersenyum, merenggankan tubuhmu. Masih dengan muka bantal.

Terima kasih telah menjadi semangat di setiap pagiku. Terus tersenyumlah, sebab itu menenangkan. Bahkan ketika Allah kelak menurunkan ujian terberatnya untuk perjalanan cinta kita, hanya satu pinyaku pada-Nya;
berikan aku kekuatan untuk membuatnya terus tersenyum. Kau tahu, semenjak aku menikahimu telah kuputuskan bahwa senyummu adalah pintu gerbang kebahagiaanku.
Azhar Nurun Ala [Reposting Dwi Agusatya Wicaksnana]

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya - BerBagi dengan HePi Dibuat dengan senang hati oleh: Dwi Agus