Menulis, Blog, Jember, Wisata, Budaya, Komunitas, Travel, Vlog, Video, Literasi, Tulisan, Buku, Tips dan Trik, Pramuka, Islami

Tuesday, August 30, 2016

Dalam memimpin organisasi & rumah tangga, menjadi pengemudi adalah hak setiap manusia.

Dalam memimpin organisasi dan rumah tangga, menjadi pengemudi adalah hak setiap manusia..
Sumber foto: lupa sumbernya di edit kembali oleh pemilik blog.
Menjadi Kepala Sekolah, juru masak, sopir, penceramah, atlet, dan masih banyak yang lainnya adalah pilihan bagi manusia serta hak yang harus dinikmati setiap orang. Sesuai dengan pasal 28 UUD 45', setiap orang mempunyai hak untuk hidup bersama dengan manusia lainnya (saya lupa kalimat tepatnya-bisa browsing dulu agar memudahkan). Selain itu, manusia juga membutuhkan manusia lainnya untuk melanjutkan dan menambah usianya. Dalam ilmu IPA, biasa disebut simbiosis mutualisme yaitu sama-sama saling menguntungkan.

Demikian pada tulisan ini, saya tertuju pada pembahasan mengenai "profesi" manusia. Menurut wikipedia yang saya akses bersamaan dengan menulis postingan ini, Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris "Profess", yang dalam bahasa Yunani adalah "Επαγγελια", yang bermakna: "Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara tetap/permanen".

Sedikit menyinggung tulisan yang ada pada gambar diatas, sebenarnya Allah sudah merencanakan kehidupan hambanya jauh sebelum mereka lahir didunia ini. Banyak mungkin diantara kita yang masih berpendapat bahwa Rezeki, Ajal, serta jodoh telah ditetapkan oleh Allah semenjak kita masih di dalam kandungan. Pemikiran seperti ini mungkin telah mendarah daging di dalam diri kita. Apalagi kiranya sejak kecil mungkin orang tua, guru, dan lingkungan masyarakat dimana tempat kita hidup pun kalimat ini sampai sekarang masih sangat familiar diulang-ulang.

Dalam konsep kehidupan, kita menggunakan ilmu tanaman. Siapa yang menabur benih, pastilah dia akan memanen. Sama halnya dengan manusia, siapapun yang dengan sungguh-sungguh menanam kebaikan, pasti akan dibalas dengan kebaikan pula, Allah sudah menjanjikan tentang hal itu. Kendatipun demikian, mulai dari rejeki, jodoh, kematian pun juga sudah ditentukan oleh Allah seperti yang sudah terbahas diparagraf atas.
Banyak orang menduga, merekalah yang mendatangkan rezeki mereka sendiri. Mereka menganggap kondisi-kondisi mereka meraih harta —barang atau jasa—sebagai sebab datangnya rezeki; meskipun mereka menyatakan, bahwa Allahlah Yang memberikan rezeki. Profesi atau usaha yang dicurahkan mereka anggap sebagai sebab datangnya rezeki.

Jadi, masih ragu untuk menjadi pemimpin? selagi baik, ya dilanjutkan, selagi belum siap terus berdoa dan usaha. Mari kita sama-sama mencoba.





Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya Blog - Belajar Mengelola Hidup dengan Benar Didukung oleh Jemberwebsite.com