Blog didedikasikan kepada pengikut dan pembaca dalam hal pengalaman penulis dalam menyajikan tempat wisata (traveling), obyek pendidikan, jajanan, sosial budaya, ekonomi dan kehidupan jalanan.

29 September 2016

Apakah alam benar-benar berbahasa, atau manusianya yang tidak pernah memahami?

Kemana lagi kita akan berlari, setelah kita sepenuhnya menyadari bahwa tiap kisah dalam hidup ini dan sejarah di dunia ditulis oleh tangan yang sama. Seberapa jauh lagi? Aku sedang bertanya. Diri ini sedang kebingungan dan mencari teman untuk menjawabnya.

sumber gambar:sosiologi-sman-1-cibeber-cikotok.blogspot.co.id
Ketika sahabat, teman bermain, tetangga kamar mulai jauh dan hilang dengan sendirinya; ketika itu pula aku merasa hidup ini semakin keras.  Dan pertanyaan itu terus ku ulang hampir tiap aku melihat para remaja yang sedang berkumpul dengan teman-temannya diwarung-warung, pinggiran jalan dan ditempat yang biasa mereka gunakan untuk saling menyampaikan indahnya pengalaman. Tak lama lagi, mereka juga pasti akan menjumpai hal yang sama denganku, masa revolusi dari remaja ke tahap dewasa.

Sebuah obrolan yang menarik tentunya, satu kalimat yang masih hangat ku ingat dan penuh makna yang mendalam. “Semakin tambah usia seseorang, semakin sedikit temannya bro” sambil tersenyum temanku mengatakannya. Entah ini memang realitanya demikian, atau bercanda. Aku pun juga sadar, tentulah yang mengatakan tersebut lebih tua dariku, aku kira selisih 2 atau 3 tahunan diatasku.

Aku tak tahu, apakah alam benar-benar berbahasa. Seperti manusia: saling menyapa, saling berbicara. Selama ini, aku hanya punya dua sudut pandang dalam melihat apa yang ditunjukkan oleh alam. Pertama, apa yang mereka lakukan adalah ujian. Kedua, hal itu merupakan hukuman. Atau keduanya sama-sama tidak perlu dipisahkan, ujian sekaligus hukuman.

Usia semakin bertambah,satu demi satu teman mulai jauh, dan bertambah lagi hanya sebatas kepentingan, selebihnya tidak ada. Artinya, teman atau sahabat yang selama ini bersamaku, lambat laun juga punya kepentingan sendiri untuk memenuhi kehidupannya: bekerja, kuliah atau jadi aktor mungkin.Kita tidak bisa memaksa agar mereka selalu bersama kita, dan itu sangat mustahil.

Dilain sisi, kita juga sering didatangi teman atau orang baru. Tapi maksunya berbeda dengan mereka-mereka sebelumnya. Kedekatan hanya sebatas kepentingan semata, entah pekerjaan, kelompok kerja, teman diskusi mata kuliah atau yang lain. Tak bisa dhindari. Dunia makin keras.

Di atas segalanya, aku masih sangat percaya bahwa penciptaan apapun di dunia ini selalu satu paket dengan alasannya. Hanya saja, kadang kita tidak tahu atau tak mau tahu. 

Aku berdoa, semoga dengan bertambahnya usia dan semakin menua, kedewasaan semakin disadari oleh tiap-tiap individu yang sedang membutuhkan hidupnya lebih baik. Semoga para teman baru silih berganti berdampak pada rejeki yang semakin mudah, berdampak pada kelancaran kerja dan aktifitas sehari hari kita. Sehingga, hidup yang semakin keras ini juga berimbang dengan harapan manusia yang serba keingintahuannya untuk sukses.

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya - BerBagi dengan HePi Dibuat dengan senang hati oleh: Dwi Agus