Menulis, Blog, Jember, Wisata, Budaya, Komunitas, Travel, Vlog, Video, Literasi, Tulisan, Buku, Tips dan Trik, Pramuka, Islami

Tuesday, February 14, 2017

Ajaklah anak-anak berjuang bersama, jangan menunggu mapan baru menikah.

Menulis adalah hal yang sangat mudah bagi yang sudah terbiasa, namun bagi saya ini adalah tantangan. Jika tak dipaksa, maka tak akan jadi tulisan dipostingan ini dan sebelum-sebelumnya pada blog yang sama. Namun saya sadar, setidaknya saya punya beberapa cerita untuk didengan dan dibaca oleh anak-anak nanti; ataupun mengenang masa-masa muda saat saya tua nanti.

Astrea Legenda bersama Ontel milik Bang Orit
Seperti yang sudah saya terangkan pada judul diatas. Bahwasanya benar manusia diciptakan dengan berpasang-pasangan oleh Allah, demi untuk melanjutkan kehidupan dan melanjutkan ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Islam akan terus berjalan selama kita terus mengajarkan pada anak-anak dan selanjutnya demikian seterusnya.

Adakalanya kita harus sadar, saya juga tidak pernah tahu konsep kemapana manusia dilihat darimana. Namun yang jelas, mapan dalam hal ini yang banyak dipahami oleh masyarakat adalah mapan harta didunia, apa yang dibutuhkan dan diinginkan terpenuhi. Dari segi ini, dapat saya terangkan titik ukur kemapanan itu juga berbeda-beda. Bisa saja saya dengan Anda sama untuk hari ini, namun hari kemudia siapapun tidak akan pernah tahu.

Jangan menikah sebelum mapan. Sebenarnya saya kurang sependapat dengan pernyataan tersebut. Seringkali banyak faktor yang memengaruhi, diantaranya: karena masih belum mendapat pekerjaan, masih belum punya rumah, masih belum dapat ijin sama orang tua dan makin banyak hal lain yang dengan alasan dan jawaban yang berbeda.

Menikah adalah tanggungjawab, menikah adalah pengorbanan. Tanggungjawab untuk menjadi ayah dan tanggungjawab untuk menjadi istri. Oleh karena itu, saya wajar-wajar saja jika ada beberapa yang masih dengan alasannya menyatakan bahwa mereka belum siap. Namun jika alasan belum siapnya karena masih belum mapan, bagi saya itu adalah yang perlu dibenahi konsep pemikiran yang demikian.

Status saya yang belum menikah, memang jelas untuk ditanya menjadi ayah yang baik bagaimana dan seperti apa, tentu saya tak bisa menjawab. Mungkin jawabannya ditunda dulu setelah menikah. Jadi konsep saya tentang judul diatas adalah, bahwasanya menikah tak harus menunggu kaya harta. Mapan kan masih bisa diperjuangkan? Apalagi dalam rangka menuju kemapanan tersebut bisa sama-sama berjuang dengan istri dan anak, insyaAllah hasilnya akan barokah. InsyaAllah rejeki akan lancar jika sama-sama berjuang dijalan Allah dan tentu dalam niat yang baik pula.  

Share:

0 komentar:

Post a Comment

Copyright © Dwi Satya Blog - Belajar Mengelola Hidup dengan Benar Didukung oleh Jemberwebsite.com